Sabtu, 06 Juni 2009

Novel

“ANTARA DUNIA KEBINGUNGAN DAN PENCARIAN PEGANGAN”
Novel Dadaisme Karya Dewi Sartika
(Analisis Sosiologi Sastra)

Novel “Dadaisme” karya Dewi Sartika merupakan karya yang luar biasa. Karya Dewi Sartika tersebut memunculkan pandangan dunia kebingungan, pengalaman manusia postmodern yang kehilangan dan mencari pegangan. Dalam mengatasi masalah yang muncul dalam kehidupan metropolis, wilayah perantauan. Dewi Sartika menawarkan solusi untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan, mencari kembali inti kebudayaan. Dia menganggap budaya Minangkabau yang dilandasai prinsip kemenduaan dapat membangun harmoni, tetapi Dadaisme baru sebuah alternatif, belum menemukan cara, seperti rumah tampak, tapi tak tahu jalan karena pengembaraan yang begitu lama, begitu jauh.

Novel Dadaisme Karya Dewi Sartika
Diawali kisah Yusna, putri pasangan Datuk Malinda dan Nidar, yang akan dinikahkan dengan Rendi, anak Sutan Bahari, seorang kaya di Pariaman. Namun, pada akhirnya Isabella, adik Yusna yang menggantikan pada hari pernikahan itu. Di satu sisi Isabella mengasihi Asril. (hal 1 – 7)
Cerita diteruskan dengan hubungan e-mail antara Aleda yang punya pasien Nedena dan Magnos yang punya pasien Flo yang membunuh keluarganya. Aleda bercerita tentang Nadena dan juga kehidupan pribadinya sebagai istri yang dimadu Asril. Cerita ditarik ke belakang lagi untuk melihat penyebab Aleda dimadu. Rupanya, Aleda yang sudah merasa dirinya tak akan bisa memberikan keturunan kepada Asril memasrahkan suaminya kepada perempuan bernama Tresna. Dari Tresna, Asril memiliki dua anak bernama Labai yang autis dan Yossy yang normal. (hal. diloncat-loncat diseluruh bagian, 8 – 174)
Banyak tokoh dan pengisahan lainnya mengalir juga di novel ini, misalnya dialog lelaki dengan lelaki, Jing dengan Ken Putra Pratama saat si Ken menemani tunangannya karena kabar duka. Di sela dengan kisah Nedena, hubungan Ken dan Jing tiba-tiba saja berlanjut menjadi hubungan homoseksualitas (hal 175 -220). Dan kisah ini sangat aneh karena saling menjalin kebetulan: Jing ternyata anak kandung dari Aleda!
Di sela tiap peristiwa di atas, sejak awal hingga akhir sesekali disisipi kisah lain yang saling terkait termasuk tentang Nedena, tentang percakapan Magnos dan Aleda tentang Flo dan Nedena juga tentang kehidupan dan dunia ilmu filsafat, kedokteran dan psikologi.

Tinjauan Sosiologi Sastra
Di antara genre karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, genre prosalah (khususnya novel) yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial. (Ratna, 2004: 335). Alasannya adalah a) novel menampilkan unsur-unsur cerita yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan yang juga paling luas, b) bahasa novel cenderung merupakan bahasa sehari-hari, bahasa yang paling umum digunakan dalam masyarakat. Oleh karena itu, Hauser (1985) (dalam Ratna, 2004: 336) mengatakan bahwa karya sastra lebih jelas dan mewakili ciri-ciri zamannya. Seperti novel “dadaisme” karya Dewi Sartika. “Kekacauan tokoh dan peristiwa-perselingkuhan, anak-anak haram yang tidak normal, dan poligami dalam novel pada hakikatnya merupakan gambaran manusia masa kini, masa di mana masing-masing orang sibuk menghadapi berbagai masalah tanpa sempat mendalami masing-masing masalah”. Kehidupan manusia sekarang dengan demikian serba pragmatis, serba sepotong-sepotong.
Dengan pertimbangan bahwa sosiologi sastra adalah analisis karya sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, maka model analisis yang dapat dilakukan meliputi tiga macam, sebagai berikut.
1. Menganalisis masalah-masalah social yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi. Pada umumnya disebut sebagai aspek ekstrinsik, model hubungan yang terjadi disebut refleksi.
2. Sama dengan di atas, tetapi dengan cara menemukan hubungan antarstruktur, bukan aspek-aspek tertentu, dengan model hubungan yang bersifat dialektika.
3. Menganalisis karya dengan tujuan untuk memperoleh informasi tertentu, dilakukan oleh disiplin tertentu. Model analisis inilah yang pada umumnya menghasilkan penelitian karya sastra sebagai gejala kedua.
(Ratna, 2004: 340)

Dikaitkan dengan perkembangan penelitian karya sastra, penelitian yang kedualah yang dianggap lebih relevan. Pertama, diabandingkan dengan model penelitian yang pertama dan ketiga, dalam model penelitian yang kedua karya sastra bersifat aktif dan dinamis sebab keseluruhan aspek karya sastra benar-benar berperanan. Kedua, dikaitkan dengan ciri-ciri sosiologi sastra kontemporer, justru masyarakatlah yang harus lebih berperanan. Masyarakatlah yang mengkondisikan karya sastra, bukan sebaliknya.

Ø Pengarang
Berbeda dengan karya-karya yang dihasilkan pengarang-pengarang Minangkabau yang lain, yang lebih memiliki gambaran eksplisit tentang Minangkabau, Dadaisme mengangkat persoalan yang berbeda. Kemungkinan penyebab utama dari perbedaan ini adalah latar belakang Dewi Sartika. Dewi Sartika berdarah Minang, tetapi lahir di Cirebon dan selama hidupnya dilalui sebagai orang Minangkabau perantauan. Mereka bisa bergaul dengan semua teman dari suku bangsa yang lain, tetapi akan selalu diingatkan bahwa dia orang Minang yang harus menjaga diri dan nama baik.
Secara sosiologis dia dapat berada di mana saja, dan mampu beradaptasi dengan baik, tetapi mereka akan tetap mempertahankan keminangkabauannya secara ideologis. Perkawinan Rendi dengan Issabella yang dimulai dengan perasaan dendam dan muak ternyata akhirnya membuat Rendi cukup bahagia, bisa mencintai istri yang hanya ditemuinya di pelaminan.
“Perempuan yang kukenal sebelumnya tak satu pun yang kucintai,” kata Rendi.
Hal ini dapat dilihat sebagai keberpihakan pandangan pengarang terhadap sesuatu yang diidealkan dalam adat.
Dunia rantau Dewi Sartika yang secara sosiologis berhubungan dengan pluralitas budaya dan pemikiran, dalam perkembangan peradaban yang mengglobal, di sisi lain berhadapan dengan ideologi Minangkabau yang dipandang sakral. Perantauan menjadi batu ujian membentuk diri menjadi pembentukan manusia Minangkabau sejati.

Ø Dadaisme dan Sistem Kultural Zamannya
Globalisasi ekonomi dan sistem informasi yang terbuka untuk diakses manusia paling primitif pun, memberi peluang terhadap terjadinya perubahan adat dan sistem sosial tradisional di Minangkabau. Menjamurnya sarana hiburan dan pusat-pusat perbelanjaan sebagaimana yang tumbuh di kota-kota lain memberikan perantauan baru bagi orang Minangkabau walaupun tidak berpindah tempat. Pergaulan bebas dan prostitusi sudah menjadi budaya baru, dan kehamilan Yusna dapat dilihat sebagai rembesan peradaban baru yang sudah menjalar mencapai dunia tradisionalis atau dapat dikatakan sebaliknya, dunia tradisional telah dihisap masuk ke dalam budaya global.
Pengaruh budaya global yang kapitalistik itu menurut hipotesis Goldmann (faruk, 1999: 124) melahirkan kebudayaan yang termediasi atau terdegradasi. Hubungan yang pada awalnya dilandasi nilai guna berubah menjadi nilai tukar. Walaupun demikian, nilai otentik yang didasarkan pada nilai guna itu sesungguhnya masih tetap melekat dalam diri manusia.
Perubahan nilai itu dalam novel secara eksplisit dapat digambarkan oleh perjodohan Yusna dan Rendi yang didasarkan adanya pertolongan finansial yang diberikan Sutan Bahari, ayah Rendi kepada keluarga Yusna. Sutan Bahari menginginkan anaknya yang terbiasa hidup di rantau dan tidak mengenal tradisi Minangkabau menikah dengan gadis sekampung, bukan gadis lain suku. Ayah Yusna tidak dapat menolak ketika Sutan Bahari memintanya untuk melamarkan Yusna kepada persukuan istrinya.
Alasan Sutan Bahari menjodohkan anaknya Rendi dengan gadis sekampung dengan menggunakan kekuasaan uangnya di satu sisi dapat dilihat sebagai bertahannya nilai otentik dalam dirinya. Sutan Bahari melihat nilai ideal dalam relasi antarorang sekampung di tengah sistem nilai yang berubah, di tengah menggejalanya peradaban baru yang bebas, yang berusaha dihindarkan dari pilihan hidup Rendi sebagai generasi penerus Sutan Bahari.
“Kau tahu, Nak. Mula-mula papa berharap kau menikah dengan Yusna. Tapi ketika papa melihat Isabella, dia tampak pantas untukmu. Kau tahu Nak, dia gadis yang kuat dan bias memberimu anak, berapa pun yang kau inginkan. Papa tidak sabar ingin menimang cucu…” suara Sutan Bahari terdengar gembira. Tawa riang anak-anak kecil yang berlari-lari dengan kaki rapuhnya, memeluknya. Pipi bayi yang montok, ranum dengan tawa yang mengemaskan. Nafas kehidupan baru di dalam keluarganya. Dutan Bahari merindukan itu semua. (hal 64)

Rendi yang produk metropolitan, dikembalikan ke dalam lingkaran akar tradisinya dengan menikahkannya dengan Yusna. Akan tetapi, Yusna ternyata sudah menjadi gambaran kebudayaan yang terdegradasi. Issabella menggantikan posisi Yusna, menerima Rendi sebagai suaminya. Hal ini menggambarkan terjadinya perenungan dalam diri Issabela yang dengan berpisah dari Asril yang juga tradisional, dan menerima Rendi. Perenungan murni tradisional terjadi dalam diri Issabella dan Rendi.
Asril, pemuda yang telah mengisi relung hati Isabella selama dua tahun belakang ini. Takdirnya berhubungan erat dengan Isabella. Tanpa mereka berdua sadari, mereka sudah terjerat dalam benang merah yang sama.
“Pemuda itu…Uni, dia kan Asril?” Etek Is berbisik di telinga kakaknya. Nidar mengangguk.
“apa masalah pernikahan Isabella tidak diberitahukan padanya?” Tanya Etek Is lagi. Lagi-lagi Nidar menggeleng.
Etek Is terhenyak dan menunduk sedih.
(hal 56-57)

Hidup Rendi adalah banal, kelakuannya adalah liar, percintaan adalah jalan hidup yang dinikmatinya bak menikmati ranumnya buah cerry yang memerah. Mengisap madu bunga adalah kegemarannya dan liku-liku hidupnya. Kini di dadanya, tertelungkup seraut wajah polos seorang gadis desa yang menumbalkan dirinya demi nama baik keluarganya. Gadis polo situ telah menangis tak bersuara, tengah bergetar, tengah berdoa memohonkan perlindungan. (hal 61)
Pelan-pelan getar di dadanya melonggar. Nafas rendi mulai kembali teratur dan dengan pelan-pelan didongakkan dagu Isabella, menatap binar matanya yang bening, pipinya yang merah dan bibirnya yang merekah. Di dalam wajah mungil itu Rendi menemukan pesona alami seorang gadis muda. Pesona alami yang dimiliki setangkai bunga bagi sang kumbang. Pesona alami dari sang putrid bagi sang satria. (hal 61)




Ø Dadaisme dan Sistem Sosial Zamannya
Dadaisme hadir di tengah dunia yang majemuk, melepaskan diri dari latar budaya dan spiritualitasnya yang murni. Manusia-manusia yang dalam budaya universal dianggap sebagai objek, kemudian merebut tempat dalam paradigma baru itu menjadi subjek. Semua mendapat tempat dan semua bisa diakui. Tidak ada kebenaran tunggal.
Dadaisme cukup mahir dalam menjelaskan semua fenomena itu. Seperti merangkai kembali perjalanan sejarah perkembangan nalar manusia, dari dunia “menyamakan Tuhan”, menuju dunia “mempertanyakan Tuhan” dan mencapai “eksistensialisme” yang kemudian memecah menjadi “atheisme (tidak percaya Tuhan)” dan “percaya sepenuhnya dengan kekuasaan Tuhan”. Dalam melihat sistem sosial yang berkembang dengan cara demikian, tokoh Aleda dan Magnos dapat dijadikan penanda. Mereka berdua warga gereja, anak-anak Allah menurut kepercayaan agamanya yang menjadi pendurhaka. Menjalani hubungan sedarah yang terlarang. Mereka berdua masuk ke dunia “mempertanyakan Tuhan”, mempertanyakan keputusan-keputusan Tuhan dan merasa Tuhan sudah berlaku tak adil pada mereka dan memutuskan untuk meninggalkan Tuhan.
Hubungan sedarah yang terjadi antara Aleda dan Magnos dapat dilihat sebagai simbol dunia modern yang narsis, menganggap diri yang terbaik dan jatuh cinta pada diri sendiri. Di dalam pengembaraannya, seseorang yang membiarkan dirinya tenggelam dalam keterpecahan personal, ia pria atau wanita, namun tidak mau menjadi salah satunya secara pasti, menjadi malaikat dan setan sekaligus. Ia menuju penghancuran, penghancuran kepercayaan dan pertandaan. Ia menghancurkan dinding benteng hukum dan konvensi sosial yang menyebabkan arus nafsu (libido) mengalir dengan bebas.
Percintaan sejenis antara Jing dan Ken menggambarkan libido yang tidak berimbang mengingkari kebenaran pandangan Freud yang menganggap libido dalam diri manusia membangkitkan semangat untuk bertahan hidup, dan semangat penghancuran. Hubungan seksual sebagai libido pertahanan (melanjutkan hidup melalui keturunan), dan membunuh sebagai libido penghancuran.
“Tidak… bukan begitu… aku….” Ken mendadak mengalihkan wajahnya ke hadapan laki-laki yang sedang duduk di sisinya. Laki-laki yang entah sejak kapan mulai masuk dalam hidupnya dan mulai dicintainya.
……………
Jing tersenyum dan melangkah mendekat kea rah Ken yang masih duduk di atas kasur yang kusut masai. Jing meraih dagu milik Ken. Dagu yang kokoh itu didongakkan padanya dan Jing mencium bibir Ken dengan lembut. Kelembutan dan kedinginan sekaligus meraih sekujur tubuh Ken. Ken merasa ada rasa jijik yang mengasyikkan di dalam ciuman itu.

Hubungan sejenis Jing dan Ken adalah hubungan hampa dan memang diakhiri penghancuran mereka berdua. Bim saudara kembar Jing juga menggambarkan perilaku yang sama, melakukan pembunuhan masal dengan meledakkan bom di ruang-ruang publik yang ramai. Mereka berdua yang lahir sebagai generasi “mempertanyakan Tuhan”, kehilangan aspek religiositas dan memperhambakan diri pada logika semata, menuju penghancuran total nilai-nilai.
Aleda dan Magnos menuju arah yang berlawanan dalam pencarian eksistensialnya. Aleda memilih jalan “percaya sepenuhnya dengan kekuasaan Tuhan”, menuju poros induk budaya yang sudah lama ditinggalkan, sementara Magnos terjebak dalam “atheisme (tidak percaya Tuhan)”. Di sini Dewi Sartika menunjukkan keberpihakannya.
“Magnos, aku tetap pada pendapatku semula bahwa Tuhan pastilah ada. Kautahu, betapa banyak manusia yang mencoba mencari apa yang menyebabkan mereka selalu merasa ‘ada hal lain yang jauh dari sangkauan mereka’. ............ dan aku tidak pernah percaya bahwa dunia ini ada satu hal yang hanya berdasarkan kepada kebetulan belaka.
...................
“Kautahu, kita sedang membicarakan hal yang abstrak sekali, Magnos. Bahkan, aku sendiri tidak berani mengatakan—kecuali tentunya aku hanya bisa meyakinkan—bahwa Tuhan itu ada. Aku tidak mau ambil pusing walaupun spinoza mengatakan bahwa Tuhan itu serupa alam. Bagiku, Tuhan yang telah engkau kutipkan itu adalah hal yang nyata untukku”
...................
“Aku ingin menikah denganmu dengan tata cara adatku. Dengan Islam. Aku tahu, kamu dan aku berbeda agama, tapi maukah kamu menikah denganku dengan islam sebagai agamamu.” Asril mengurai kembali.
“apakah Tuhanmu baik?”
“Eh?”
Aleda buru-buru melengkapi kalimat miliknya, “Tuhan yang kamu sembah—yang kamu sebut Allah. Apakah Dia tidak akan meninggalkanku dalam kecemasan?”
“Tidak, Tuhan yang aku sembah tidak akan pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya dalam kecemasan,”

Daftar Pustaka

Faruk. 1999. Hilangnya Pesona Dunia. Yogyakarta: Yayasan untuk Indonesia.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Penelitian Sastra, dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Denpasar: Pustaka Pelajar.

Sartika, Dewi. 2004. Dadaisme. Yogyakarta: Matahari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar