Sabtu, 06 Juni 2009

Puisi

PERANAN YANG DRAMATIS AKTOR ENGGA
Dalam Musikalisasi Puisi Sosiawan Leak

Kekompleksan karya sastra membuat seorang apresiator dapat mengapresiasikan karya sastra melalui beberapa pendekatan. Salah satu pendekan yang dapat digunakan oleh apresiator dalam mengapresiasikan karya sastra adalah pendekatan objektif. Pendekatan ini menitik beratkan pada karya sastra itu sendiri
Pendekatan objektif ialah pendekatan yang memandang prosa fiksi sebagai karya yang sudah utuh dan mandiri (Nadjid, 2003: 39). Hal tersebut memiliki maksud bahawa prosa fiksi dapat di baca dan dipahami tanpa harus mengaitkan dengan semesta-semesta dalam hal ini dimaknai sebagai kehidupan yang berada di sekitar manusia—sebagai sumber penciptanya, pengarang atau penulis sebagai penciptanya, dan masyarakat pembaca sebagai penikmatnya. Pendekatan ini menyatakan bahwa prosa fiksi hanya dapat dipahami dengan cara membaca teks prosa fiksi itu sendiri atau di dalam drama menonton pertunjukan itu sendiri
Jika kita mengkaji tentang objek yang ada dalam sebuah drama, berarti kita menganalisis tentang segala sesuatu yang ada di dalam drama itu sendiri, salah satunya adalah aktor atau pemain. Pemaian atau aktor dalam suatu drama sering diidentikkan dengan akting (acting). Menurut indarti (2006: 65) menyatakan akting merupakan tindak perbuatan kreatif atau perilaku kreatif tentang manusia-manusia yang dicipta oleh seseorang peraga seni pertunjukkan. Lebih lanjut stanislavski (dalam indarti 2006: 66) menguraikan enam pelajaran pokok untuk calon aktor, yang salah satunya adalah peranan yang dramatis.
Dalam pertunjukkan musikalisasi puisi oleh sosiawan leak, Engga sebagai aktor utama mampu menampilkan peranan yang dramatis dalam pertunjukkan tersebut. Hal itu bisa kita lihat dari bagaimana ia mampu mempengaruhi atau menarik perhatian penonton. Sebagai contoh:
“korupsi – pornografi, ..........................presiden – imunisasi”
Dalam mengucapkan kata-kata tersebut Engga mempertunjukkan sesuatu yang luar biasa sambil menunjuk-nunjuk, dan gerakan-gerakan yang dimulai dari lambat kemudian cepat, cepat dan lebioh cepat terus menerus hingga terhenti. Hal inilah yang mampu memukau penonton, sehingga penonton lupa akan dirinya sendiri pada waktu adegan tersebut berlangsung
“Bapakku adalah pezina, ...................... ah! ah! ah!”
Dalam memperagakan puisi tersebut seolah-olah Engga sendiri yang melakukan perzinaan, sehingga pada saat ia mengucapkan “ah! ah! ah!” dengan tubuh yang lentur dan luwes memperagakan layaknya adegan hubungan perzinaan. Hal inilah yang membuat penonton terkesima seolah-olah penonton sendiri merasakan atau mengalami hubungan perzinaan itu sendiri.
Pada saat mempertunjukkan musikalisasi puisi tentang pornografi, penonton pun dibawa merasuk dalam dunia nyata oleh adegan yang ditampilkan oleh Engga. Ia muncul dengan berpakean jaket. Pada saat mempertunjukkan adegan pornogarafi ia melepas jaket seolah-olah ia mau telanjang, ternyata masih mengenakan kaos, lalu ia melepas kaosnya hingga ia telanjang setangah badan. Penonton pun hanya terpukau dengan adegan itu maka muncullah tepuk tangan yang meriah menyambut adegan pelepasan kaos Engga. Tidak puas sampai di situ ia pun melepas celana pendek yang ia pakai. Secara bersamaan penonton (khususnya wanita) menjerit histeris karena beranggapan Engga akan telanjang, akan tetapi Engga masih mengenakan celana yang lebih pendek lagi. Belum puas sampai di situ Engga pun hendak melepas satu-satunya pakaian yang menempel di tubuhnya, namun secara tidak sadar keinginan itu ia urungkan dan ia langsung menghilang di belakang panggung.
Pada dasarnya seorang aktor atau pemain akan mempu menarik perhatian [ublik atau penonton bila ia mampu memberikan segala apa yang ada pada dirinya (indarti, 2006: 66). Dengan demikian, pelaku yang baik, pada saat mengucapkan kalimat-kalimat diharapkan mampu memukau perhatian penonton sehingga penonton lupa terhadap dirinya sendiri pada waktu adegan tersebut dimainkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar